GARUTTERKININEWS.COM – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Garut menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DT-SEN) bagi 442 operator Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) tingkat desa/kelurahan se-Kabupaten Garut. Kegiatan berlangsung di Aula Dinsos Garut, Jalan Patriot, Kecamatan Tarogong Kidul, Kamis (5/11/2026).
Kepala Dinsos Kabupaten Garut, Marlinda Siti Hana, saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa Bimtek ini menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas para operator dari 442 desa/kelurahan. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari tingkat provinsi serta Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Badan Pusat Statistik (BPS).
“Jadi, adik-adik sebagai operator desa ini kita upgrade skill-nya agar mereka lebih berkualitas lagi dalam melakukan penginputan data,” ujar Marlinda.
Ia menegaskan bahwa sumber data berasal dari tingkat desa/kelurahan. Namun, penentuan akhir desil DT-SEN ditetapkan oleh pemerintah pusat sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2025. Data tersebut mengelompokkan status sosial ekonomi masyarakat ke dalam Desil 1 hingga 10.
Marlinda menjelaskan bahwa DT-SEN merupakan hasil penggabungan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari Kementerian Sosial dengan data kemiskinan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) yang dikeluarkan oleh BPS.
Ia juga menyoroti fenomena warga yang sebenarnya berada dalam kategori mampu atau Desil 6–10, tetapi meminta status desilnya diturunkan menjadi Desil 1–5 agar dapat memperoleh bantuan sosial (bansos).
Menyikapi hal tersebut, Marlinda menginstruksikan para operator agar bekerja secara tegas dan teliti.
“Harus ada check and recheck serta _ground check_ (pengecekan langsung ke lapangan) yang dilakukan oleh adik-adik operator,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Dinsos Garut akan melakukan evaluasi dengan turun langsung ke lapangan untuk mencegah kesimpangsiuran data. Dinsos juga mengimbau warga yang berada pada Desil 6–10 agar jujur terhadap kondisi ekonominya dan tidak meminta penurunan desil.
Sementara itu, Ketua Pelaksana sekaligus Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin Dinsos Kabupaten Garut, Asep Nugraha, menjelaskan bahwa Bimtek ini bertujuan menyamakan persepsi para operator dalam mendukung pelaksanaan kebijakan penanganan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Garut.
“Selain itu, kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat sinergi dan koordinasi, mengoptimalkan peran operator SIKS-NG dalam pengelolaan DT-SEN, serta mewujudkan penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang terpadu, efektif, dan tepat sasaran,” jelas Asep.
Bimtek ini diikuti 442 operator SIKS-NG tingkat desa/kelurahan se-Kabupaten Garut. Untuk mengefektifkan pelaksanaan kegiatan, peserta dibagi ke dalam empat sesi selama dua hari berturut-turut. ( Bagus Sopian )





